Pure Collagen Asli Seruyan

DAPATKAN KULIT SEHAT CANTIK DAN CERAH, KONSUMSI PURE COLLAGEN TIAP HARI, LEBIH MUDAH, & EFEKTIF

Aman Untuk Ibu Hamil dan Menyusui. Kami Agen Resmi Pure Collagen Seruyan

Bagi Anda Pemakai Android, Silahkan Tekan Icon Berikut Untuk Otomatis Chat Whatsapp :

Klik Untuk Chat WA Secara Otomatis

Kenapa harus Pure Collagen?

Pure Collagen adalah minuman kesehatan khusus untuk nutrisi kulit. Pure Collagen mengandung 4 nutrisi penting bagi kulit yaitu kolagen, natrium hyaluronate, vitamin C dan ekstrak buah strawberry.

Pure Collagen merupakan ekstrak buah strawberry yang mengandung kolagen murni yang dikombinasikan dengan Hyaluronate, Vitamin C sehingga menghasilkan kombinasi optimal untuk menjaga kehalusan, kekencangan, kecerahan dan kesehatan kulit Anda tanpa berbahaya.

Pure Collagen adalah supplemen kulit yang bermanfaat untuk menutrisi kulit dan memutihkan kulit. Selain itu Pure Collagen juga efektif untuk mengatasi jerawat dan bekas jerawat di wajah. Pure Collagen merupakan minuman kesehatan yang mengandung beberapa nutrisi penting bagi kulit, diantaranya Collagen, Hyaluronat, Vitamin C, dan Buah Strawberry yang diproduksi dengan teknologi tinggi.

Kami adalah Agen Resmi Pure Collagen Seruyan

Pure Collagen tidak menyebabkan berat badan dan asam lambung naik. Produk ini aman digunakan jangka pendek maupun jangka panjang dikarenakan dosisnya sudah disesuaikan untuk konsumsi sehari-hari. Memutihkan kulit secara merata dengan Pure Collagen tidak ada efek samping negatif selama pemakaian maupun setelah berhenti dari pemakaian.

Manfaat Pure Collagen :

  • Membantu Proses Memutihkan kulit dan mencerahkan kulit
  • Membantu Mengecilkan pori-pori
  • Membantu Melembabkan kulit
  • mencegah jerawat dan bekas jerawat
  • Membantu Menangkal radikal bebas
  • Membantu Mengencangkan kulit, menjadikan lebih kenyal dan elastis
  • Sebagai sumber antioksidan serta meningkatkan daya tahan tubuh
  • Membantu Mencegah penuaan dini

Bahan yang terkandung dalam Pure Collagen :

  • Ikan Tilapia
  • Natrium Hyaluronate
  • Vitamin C
  • Buah Strawberry

Aturan Minum Pure Collagen :

  • Untuk perawatan minum  3 X sehari 1-2 sachet secara teratur.
  • Disarankan diminum setelah makan.

Agen Resmi Pure Collagen Seruyan
1 Box isi 30 sachet

DINKES RI 613317536224

Kami adalah Agen Resmi Pure Collagen Seruyan

Bagi Anda Pemakai Android, Silahkan Tekan Icon Berikut Untuk Otomatis Chat Whatsapp :

Klik Untuk Chat WA Secara Otomatis

=====================

Badan Manusia Tidak Berubah

Secara fisik, yakni sosok anatomis atau struktur Badan, maupun faali Jasmani atau kerja “mesin” Jasmani manusia dari masa ke masa tidaklah berganti. Faktor internal Jasmani kita dari masa ke masa senantiasa ajeg, senantiasa seperti sediakala. Kalaupun ada yang berubah, bukanlah yang bersifat mendasar benar, dan kurang punya arti bagi kelangsungan hidup manusia. Sebut saja tulang ekor yang mengalami rudimenter atau semakin menghilang dari keadaan sebelumnya. Demikian pub halnya dengan usus buntu. Namun berbeda dengan keadaan sosok Tubuh, masalah kesehatannya tentu saja berubah-ubah di setiap masa, pada zaman yang berbeda.

Selain itu, masalah tersebut berbeda pula pada masa yang sama untuk wilayah dan ras bangsa yang berbeda.

MASALAH KESEHATAN MUNCUL BERAGAM SESUAI DENGAN IKLIM, MUSIM, SERTA LINGKUNGAN YANG BERBEDA. MASING-MASING WILAYAH, RAS, DAN BANGSA MENGHADAPI ANCAMAN YANG TIDAK JELAS SAMA.

Pada tingkat bangsa, perbedaan masalah kesehatan terkait dengan tingkat pendidikan selain kondisi sosial-ekonomi. Ada masalah kesehatan kaum papa, selain pada saat yang sama ada pula masalah kesehatan kaum berpunya. Pada masa yang sama pula, kaum papa sama-sama memikul masalah serupa mereka yang hidup berkecukupan. Penyakit sendiri berganti-ubah dari masa ke masa mengiringi perubahan pada faktor manusianya, selain Faktor lingkungan, serta agent yang berkembang pada suatu masa. Itu kalau kita berbicara soal penyakit infeksi. Interaksi kebersihan perorangan, sanitasi lingkungan, dan populasi bibit ,,.. penyakit dalam keadaan yang periu dijaga seimbang bila tak ingin memunculkan penyakit infeksi. Hanya apabila kondisi lingkungan terpelihara sanitasinya, limbahnya, polusi udara, air, dan tanahnya, maka bibit penyakit tak mendapat ruang untuk berkembang. Termasuk pula apabila kebersihan perorangan, tertib cuci tangan, menjauhkan bibit penyakit di atm bebas, sehingga tidak sampai menginfeksi badan.

Mencegah Semua Infeksi Pencernaan

Makin berpendidikan seseorang, maka biasanya makin terbina kebersihannya, makin terjaga sanitasi lingkungannya, dan makin jauh ancaman bibit penyakit. Kita tahu, bibit penyakit datang dari udara (air-borne infection) berupa virus, kuman, basil, dan jamur. Bibit penyakit juga bisa datang dari air tercemar (water-borne infection), selain dari makanan-minuman tercemar (food-borne infection). Cara penularan sebagian besar bibit penyakit infeksi melalui tinja (faecal-oral infection), dari tangan tercemar tinja masuk ke mulut lalu tiba di usus, atau langsung menelan makanan atau minuman yang sudah tercemar tinja. Abai pada kebersihan perorangan, tidak cuci tangan sebelum makan, atau kebiasaan jajan sembarangan tidak mengenal usia. Hal ini tidak jelas juga tidak menyerang mereka yang mengenyam bangku sekolah. Bila kebiasaan cuci tangan belum terbentuk, siapa pun berisiko terinfeksi saluran pencernaannya.

MASIH RENDAHNYA KEBERSIHAN PERORANGAN RATA-RATA MASYARAKAT, DITAMBAH MASIH BELUM BERSIHNYA SANITASI LINGKUNGAN MENJADI PENYEBAB KENAPA ANGKA INFEKSI PENCERNAAN MASIH TERBILANG TINGGI.

Belum semua masyarakat mendapatkan air minum yang layak diminum. Pada saat yang sama, masih lebih dari separuh masyarakat kita membuang tinjanya di permukaan tanah atau di sungai. Maka infeksi pencernaan, muncul sebagai kasus diare, masih menduduki peringkat alas. Tak heran kalau kasus tifus, disentri, dan infeksi pencernaan lain, termasuk radang hati hepatitis A masih endemik di banyak wilayah kita, terutama di musim kemarau ketika air bersih sulit didapat. Mereka yang kebersihan perorangannya sudah lebih balk dibandingkan rata-rata masyarakat, tertular infeksi pencernaan dari jajanan tercemar. Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman kaki lima berisiko terinfeksi, karena kebersihan makanan-minuman yang kurang terjaga.

Sedikitnya ada sepuluh penyakit pencernaan masih menduduki urutan atas pada setiap generasi, karena masalah infeksi pencernaan masih menyerang segala umur. Hanya apabila cuci tangan dibiasakan, sanitasi lingkungan dibudayakan, kebersihan warung nasi atau restoran ditingkatkan, masalah penularan infeksi pencernaan bisa ditekan.

Masalah Kesehatan Jiwa

Kalau diteliti benar, masalah kesehatan pada generasi yang lebih muda lebih pada masalah kesehatan jiwa daripada kesehatan fisik. Namun, kita tidak bisa memilah, dan menafikan bahwa kesehatan jiwa tidak lebih penting daripada kesehatan fisik atau sebaliknya. Keduanya sama penting karena kesuksesan dan kesejahteraan sebuah generasi ikut ditentukan oleh kedua anasir or-kesehatan itu, balk fisik maupun jiwa.

Mengacu pada kesehatan secara umum, bukan saja tidak ada kelemahan fisik dan jiwa, melainkan juga sehat dan bugar secara sosial maupun spiritual. Bertolak dari hal itulah, masalah kesehatan jiwa pada setiap generasi tidak boleh diabaikan.

KESEHATAN JIWA MELIPUTI BAGAIMANA MENJAGA DAN MENCEGAH MAR GANGGUAN KEJIWAAN TIDAK SAMPAI TERJADI. BAGAIMANA ANAK DIBESARKAN, SIKAP PENGASUHAN, DAN LINGKUNGAN PERGAULAN, SERTA TATA NILAI YANG MEREKA ANUT SEMUA MENENTION APAKAH GANGGUAN JIWA AKAN MENJADI BAGIAN DARI GAYA HIDUP MEREKA.

Kita melihat kekerasan yang semakin menonjot di katangan generasi muda. Dulu, lebih dari dua dekade latu, Amerika Serikat resah karena kekerasan semakin merajatela di katangan anak sekolah. Mereka menuding anke games yang mengutamakan nitai dan sikap agresivitas sebagai biang ketadi. “Pukul dutu, urusan belakangan” menjadi adagium baru di kalangan anak-anak generasi yang bertumbuh dan berkembang di tengah pergaulan adu jotos, adu pukul, dan adu serang sebagaimana kita saksikan datam games yang mereka gandrungi. Pada masa yang sama, anak-anak yang dibesarkan dengan keuangan yang lebih mapan, yang tanpa persaingan ketat seperti yang dilalui generasi ayah-ibunya, lemah saja daya juangnya.

Mereka kehilangan spirit juang, dan menempuh kehidupan seenak yang ada di hatinya belaka. Mereka cenderung menjadi semakin easygoing.

Kita mencatat Amerika Serikat kewalahan menghadapi anak-anak yang malas pergi ke sekolah, memilih tidak mau bersekolah saja. Kalaupun ke sekolah, mereka cenderung santai, nyaris tidak mengejar prestasi. Kinerja bersekolah mereka lemah saja.

Pemerintah Singapura mengambil murid-murid berprestasi dari manca negara Asia untuk dihadiahi beasiswa, sekadar menumbuhkan rasa persaingan di antara anak didik mereka sendiri. Hanya agar anak-anak Singapura menyadari bukan mereka saja anak yang pintar. Harga yang tidak murah untuk membangun prestasi dan kinerja anak sekolah di Singapura.

HIDUP SERBA ENAK, SERBA NYAMAN, NYARIS TANPA KESULITAN BERARTI PADA GENERASI YANG LEYIH MUDA, DI TENGAH TINGKAT KESEJAHTERAAN MELEBIHI YANG DITERIMA GENERASI ORANG TUANYA, BUKAN TANPA MEMUNCULKAN KECEMASAN.

Tak sedikit anak-anak muda dan anak sekolah yang mengidap kecemasan (anxiety), selain depresi. Peristiwa penembakan membabi-buta di lingkungan sekolah, bukan satu kali kita melihatnya di beberapa sekolah di Amerika, justru pada generasi yang perjalanan hidupnya serba mulus.

Mereka menjadi cemas dan depresi bisa jadi karena bullying di antara mereka sendiri, selain munculnya cyber bullying dan kekerasan di lingkungan sekolah sendiri. Mereka juga tak sedikit mengalami tekanan sosial, bisa jadi lantaran menghadapi kekacauan nilai atau etika yang berubah.

Ada kesenjangan tata nilai yang dianut mereka dengan generasi sebelum mereka. Tak sedikit pula masalah muncul di dalam rumah, dengan kerabat atau dengan sikap orang tua sendiri. Hidup serba terjamin, serba tersedia, atau serba ada bukan jaminan bakal menjadi bahagia-sejahteranya anak-anak bersama ayah-ibunya. Ketika kecukupan dasar tercukupi, ada kebutuhan lain yang mungkin tidak terpenuhi. Hilangnya sentuhan sosok ibu dan ayah dalam banyak keluarga dari generasi yang tata nilainya makin senjang.

SUDAH GALIBNYA ANAK-ANAKBERTUMBUH DAN BERKEMBANG MELEWATI BERBAGAI EASE YANG MENJADI BERMASALAH VIA MENGHADAPI BENTURAN NILAI.

Anak-anak menjadi lebih dekat dan akrab dengan teman-teman sebaya, dengan orang yang bukan ayah-ibunya sendiri, ketimbang merasa hangat dengan kedua orang tuanya. Anak menjadi merasa asing berada di rumahnya sendiri, karena suasana rumah terasa lebih tegang ketimbang berada di luar rumah. Anak menjadi sosok yang bukan siapa-siapa (nobody). Anak-anak juga merasa kehilangan figur entah siapa ketika memasuki rumah tanpa kehadiran kedua orang tuanya. Mereka merasakan keadaan sarang kosong (empty nest), menemukan kepuasan dari televisi, dari orang lain yang bukan orang tuanya. Anak-anak belajar dari tata nilai yang tidak selalu tepat bagi perkembangannya. Anak-anak generasi yang lebih muda juga secara biologis bertumbuh lebih cepat dibandingkan generasi sebelumnya. Pengaruh gizi, pergaulan, dan informasi dari berbagai penjuru mengubah secara fisik mereka lebih lekas matang. Kenyataan ini menimbulkan masalah seksualitas yang prematur. Lebih terlampau pagi matang seksual, ketika secara kejiwaan masih kelewat hijau.

Diskrepansi fisik yang kelewat cepat matang mendahului kematangan jiwa juga memunculkan banyak masalah kejiwaan. Anak-anak menerima begitu meruahnya informasi yang belum waktunya diterima.

Berita politik, ekonomi, sosial, selain tayangan beraroma seksualitas merambah memasuki kamar tidur hanya dengan satu klik di komputer. Mereka dengan mudah bisa menyaksikan “film biru”, ketika secara fisik sudah sangat matang, dan secara kejiwaan mereka belum slap. Tumbuhlah konflik batin antara sudah bisa, namun belum boleh melakukan ketika masa menunggu perkawinan. Pada generasi yang lebih muda, mereka menempuhnya lebih panjang. Masa di antara sudah bisa seks dan baru boleh melakukan seks atau masa biosociallebih panjang daripada generasi kakek-neneknya. Masalah tersebut terjadi lebih disebabkan oleh aspek kejiwaan.

MENEKAN DORONGAN SEKS YANG MENGGEBU MELEBIHI YANG DIALAMI KAKEK-NENEKNYA, SEMENTARA RAGAM PERGAULAN TEMAN-TEMAN SEBAYANYA, BAIK DI KOTA MAUPUN DI DESA SAMA BURUKNYA SEBAGAI GODAAN YANG MAKIN SENSUAL. FENOMENA INI SEBUAH PERMASALAHAN GENERASI MUDA JUGA.

 

Kemunduran di katangan generasi yang lebih muda juga semakin terasakan, tertebih metihat realitas masih belum dikabulkannya kurikulum pendidikan seks dalam silabus sekolah. Anak-anak mendapatkan berita seks dan seksualitas secara tidak tepat, karena diperolehnya dari tangan kedua. pengetahuan dari Leman, dari bacaan, atau dari sumber yang Lida bertanggung jawab sehingga sering menyesatkan, alih-alih menambah wawasan sehatnya. masalah kawin muda, menjadi janda muda, terkena penyakit kelamin (penyakit menular seksual) kini menjadi masalah baru pada generasi yang lebih muda. Ketidaktahuan seksualites dan seks manakala menempuh rimba pergaulan yang serba permisif. Mudah dibayangkan bahwa faktor itulah yang mengubah mereka rentan terjerumus, jauh lebih berisiko dibandingkan yang dulu dihadapi kakek-nenek atau ayah-ibunya.

Persaingan dalam merebut lapangan pekerjaan, ketika lulusan anak yang pintar semakin banyak ketika lapangan pekerjaan makin menciut, menimbulkan masalah kejiwaan juga. Mereka harus semakin berebut take home payyang syukur-syukur bisa mencukupi kebutuhan bulanan. Sering-sering buat hidup melajang saja pun belum jelas cukup. Lulusan S2 dengan penghasilan perdana, masih harus kontrak rumah, sisa penghasilan habis buat transportasi dan makan, lalu kapan bisa punya rumah sendiri. Ini juga masalah. Perkawinan yang tertunda, dan memang harus ditunda, bukan tanpa persoalan pada sebagian besar anak muda generasi kiwari.

Umur perkawinan kepala tiga dianggap wajar bagi generasi yang lebih muda, bukan tanpa dampak sosial pada kehidupan gender. Catatan tentang umur perkawinan yang makin terulur itu, menjadikan pihak gender perempuan semakin kehilangan pasangan yang tepat dan diidamkannya (right man at the right moment). Mereka kehilangan calon pasangan sebayanya selama mereka menunggu umur perkawinan yang makin terulur.

Ketika umur mendekati umur perkawinan, teman lelaki sebaya cenderung memilih pasangan hidup yang jauh lebih muda. Itu pula penyebab sebagian besar alasan kenapa banyak perempuan akhirnya memutuskan hidup melajang. Ketika mereka memutuskan menunda umur perkawinannya, mengejar karier, kesempatan mendapatkan pasangan semakin tipis peluangnya.

Makin tinggi karier mereka raih, makin sempit pilihan yang cocok menjadi pendamping hidupnya. Berbeda dengan kaum pria. Semakin matang kariernya, lelaki semakin mudah memilih pasangan hidupnya. Masalah timbul ketika pilihan terkendala oleh tidak jujurya pasangan hidupnya, manakala cinta menjadi demikian matematis. Perkawinan kilat yang tidak selalu jelas, sering karena kehadiran seks acap mendahului tumbuhnya cinta, menjadi petaka lain dalam membangun rumah tangga. Ketika nilai cinta dikalahkan oleh yang lain, hal ini dituding menjadi penyebab masalah perkawinan gagal. Kita melihat kegagalan perkawinan berdampak pada masalah kejiwaan juga.

TONTONAN POLA GAUL KALANGAN SELEBRITAS, KEHIDUPAN HOLLYWOOD YANG MEREKA BACA DAN SAKSIKAN, MENJADI INTERNALISASI NILAI TERSENDIRI, BANWA YANG TIMPANG ITU MEREKA TERIMA SEBAGAI ROLE MODEL, SEBAGAI SEBUAH KETELADANAN. TERMASUK PESAN NILAI DAN MUATAN MORAL SERTA TAMPILAN RATA-RATA SINETRON TELEVISI KITA YANG KURANG LAIK DITELADANI.

Trauma perceraian yang mereka saksikan pada generasi kakek-neneknya tidak cukup sumbangannya untuk menjadi bekal dan jaminan mereka tidak bakat mengalami nasib yang sama, ketika proses pacaran melampaui batas kewajaran. Ketika menjadi tidak perawan dianggap bukan matapetaka lagi, kokohnya pondasi perkawinan tetap harus disangsikan. Ketika perkawinan hanya didasarkan pada intimasi seksualitas belaka, mana mungkin bisa diharapkan berhasil langgeng.

Realitas yang kerap terjadi justru sebaliknya. Ikatan perkawinan yang fondasinya rapuh, karena landasannya bukan yang lebih bermakna dari hanya sekadar seks akan rentan untuk gagal. Di Amerika Serikat, pemerintah menyadari sekali bahwa anak-anak generasi muda dua dekade lalu sudah mengalami Kemunduran nitai kebenaran. Kebenaran menjadi pilihan pribadi. “Benar kata kamu belum jelas benar menurut saya”. Kebenaran menjadi persoalan selera. Dan, ini bermasalah. Ketika pendidikan di Barat cenderung menciptakan anak menjadi mesin pencetak uang semata, sikap konsumtif anak-anak pun terbentuk. Beranggapan bahwa apa saja bisa dibeti dengan uang. Padahal kalau tujuan hidup demi kebahagiaan, mereka gagal mendapatkannya dengan uang yang mereka sudah kumpulkan. Karena tidak setiap hal atau benda bisa ditebus dengan uang. Semakin banyak anak dari generasi yang lebih muda memiliki kehidupan yang tidak bahagia.

KALAU HIDUP MENJADI TIDAK BAHAGIA, MEREKA T1DAK MERASAKAN HIDUPNYA BERMAKNA. GENERASI YANG LEBIH MUDA MENGALAMI HAL SEPERTI INI. MERASA HIDUP TANPA MAKNA. HIDUP MENJADI TIDAK BERMAKNA (MEANINGLESS LIFE) DAN, KENYATAAN INI MENJADI BAGIAN DARI ZIARAH HIDUP MANUSIA YANG BERUJUNG SIA-SIA.

Manakala kehidupan duniawi semakin didahulukan, kehidupan spiritualitas semakin kendur. Tempat ibadah dikunjungi hanya oleh generasi kakek-nenek belaka, dan anak-anak generasi yang lebih muda menemukan spiritualitas mereka pada akal sehat. Mereka berpikir dengan logika semata ketika tengah menyelami iman. Bukan mustahil kalau kemudian lahir sikap yang cenderung mendahulukan berpikir logis ketika mempersoalkan iman (“free thinkers”). Sisi ini bukan tanpa dampak pada pribadi maupun pada kehidupan sosial anak-anak generasi yang lebih belia.

PADA TATARAN SOSIAl, GENERASI LEBIH MUDA KHUSYUK BERKUTAT DENGAN KELOMPOK MEREKA. CENDERUNG EKSKLUSIF; MERASA HANYA BISA DIPAHAMI DAN DITERIMA OLEH KELOMPOKNYA SENDIRI. KETIKA GENERASI YANG LEBIH TUA TIDAK BISA BERTENGGANG RASA, MERASA PALING BENAR SENDIRI, MAKA GENERASI YANG LEBIH MUDA MEMILIH SEMAKIN MENJAUH SAJA.

Masalah Bukan Penyakit Menular

Jika dipelajari sejak awal, masalah kesehatan generasi yang lebih muda cenderung pada bukan penyakit menular, seperti yang dihadapi generasi ayah-ibu dan kakek-neneknya yang masih dirundung penyakit infeksi dan penyakit menular lainnya. Dengan kondisi hidup berkecukupan, sanitasi yang lebih balk, dan pranata kesehatan yang lebih baik, maka masalah kesehatan pun berganti menjadi penyakit akibat keliru memilih gaya hidup.

PILIHAN MENU GENERASI YANG SEMAKIN MUDA SUDAH SANGAT MENYERUPAI, KALAU BUKAN SAMA DENGAN YANG DINADAPI GENERASI DI NEGARA BARAT UMUMNYA. SEJAK KECIL, ANAK-ANAK GENERASI DIASUH DAN DIBESARKAN DENGAN POLA HIDUP DAN CARA YANG LEBIH KEBARAT-BARATAN, TERMASUK DALAM HAL PILIHAN MENU.

Masuk akal apabila selera makan generasi yang semakin muda sudah jauh dari menu tradisi nenek moyang, menu di meja makan kakek-nenek mereka. Lidah mereka sudah tercipta oleh menu bercita-rasa Barat, dan tidak lagi mengenal, kalau bukan merasa asing atau menolak menu tradisional, seperti sayur lodeh dan sayur asam. Ketika restoran ayam goreng, hot dog, burger, semakin merambah sampai pelosok desa, lidah generasi selama kurun tiga dekade sudah terbentuk secara salah. Buat dunia medik, itu malapetaka. Mengapa? Karena menu yang salah dan lebih sering mengonsumsi menu di luar rumah, sebagaimana pole makan dan pola pergaulan generasi yang lebih muda, akan membangun Tubuh mereka tidak sesehat kakek-neneknya. Itu pula awal dari perjalanan kurang sehatnya generasi angkatan yang lebih muda.

Banyak duduk dan kurang bergerak, kehabisan waktu untuk berolahraga, kesibukan mengejar karier, dan cenderung mendahulukan mencari hiburan, mengantarkan kebanyakan angkatan generasi lebih muda menjadi lebih tambun.

Berat badan yang rata-rata berlebih, setelah pilihan menu yang keliru, awal dari sejumlah malapetaka pada angkatan generasi yang lebih muda. Kita memaklumi bahwa kelebihan berat badan sebagai “bom waktu” untuk sekian penyakit yang sebelumnya sudah dialami generasi ayah-ibu, bahkan angkatan kakek-neneknya. Kita membaca beberapa catatan suram ihwal bukan penyakit menular, melainkan penyakit-penyakit degeneratil, sebagaimana penyakit yang menonjol pada abad ini, semakin menegaskan bahwa pilihan gaya hidup yang harus dikembalikan menjadi seperti sediakala ketika kakek buyut dulu memilihnya.

Mati Prematur

Dalam dunia medik dikenal apa yang disebut sebagai kematian prematur atau premature death.  Artinya, kematian yang terjadi di bawah angka harapan hidup (life expectancy). Umur harapan hidup orang di Zimbabwe sekitar 40 tahun, karena kondisi ekonomi dan kesehatan yang buruk. Umur harapan hidup orang Indonesia mencapai 70 tahun. Artinya, sejak lahir diperkirakan rata-rata orang Indonesia bisa bertahan hidup sampai rentang 70-an tahun. Harapan hidup orang Amerika Serikat mencapai 80 tahun. Orang Okinawa lebih dari itu.

APABILA PADA SUATU BANGSA, ADA ORANG YANG MENINGGAL JAUH DI BAWAH UMUR HARAPAN HIDUPNYA, DUNIA MEDIK MENCATATNYA SEBAGAI KEMATIAN PREMATUR, LEPAS DARI KENISCAYAAN AJAL DAN MAUT ADA DI TANGAN TUHAN.

 

Bukan saja catatan ihwal kematian prematur yang cenderung meningkat di kalangan generasi yang lebih muda, di segala bangsa, kecenderungan bukan penyakit menular menimpa pada usia yang lebih muda. Dulu kakek-nenek atau buyut mereka baru menghadapi masalah serangan jantung dan stroke pada usia kepala lima, sekarang sudah menimpa pada usia yang lebih

Masalah kehidupan tidak lagi dimulai pada umur 40 tahun sebagaimana diyakini sebelumnya. Sekarang kasus-kondisi serangan jantung dan stroke makin merenggut, tak hanya menyerang kelompok umur yang lebih muda. Masalah sudah terjadi pada sebelum kepala empat. Kita membaca, kunci masalahnya lantaran keliru memilih gaya hidup. Kesadaran akan malapetaka yang mengancam kalangan generasi muda, jauh hari sudah diimbau lewat Sydney Resolution, bahwa dunia harus berganti, dan orang juga perlu berubah, agar kematian prematur yang menimpa lebih dari 344 juta orang dalam kurun waktu ini di dunia tidak perlu terjadi kalau mereka mau mengubah gaya hidupnya. Betapa besar magnituda dampak sosial penyakit yang menimpa generasi yang lebih muda saat ini.

Gemuk Sejak di Kandungan

kondisi kelebihan berat badan pada setiap generasi, semenjak Generasi Baby Boomers sebagai generasi terburuk di penghujung abad ini, sudah tampak mewabah. Makin bermunculan anak-anak dengan berat badan melebihi generasi sebelumnya, manakala gizi keluarga sudah lebih melimpah dibandingkan generasi di musim perang. Gemuk dan kegemukan terpola dalam banyak keluarga sebagai penyakit famili.

Pada keluarga yang membentuk kebiasaan makan melebihi kebutuhan, seakan sebuah warisan yang mentradisi. Dari ayah-ibu yang gemuk akibat mewarisi kelebihan berat badan bukan secara genetik, melainkan karena pola makan berlebih di meja makan rumah. Awalnya sosok gemuk dipandang sebagai simbol status orang sejahtera. Bonafiditas diukur dari seberapa gemuk seseorang. Maka, ada kebanggaan ketika setiap orang tua mendambakan anak-anaknya montok, sejak masih dalam masa awal kandungan. Tanpa disadari kalau itu sebetulnya malapetaka bagi keluarga, terlebih bagi si anak sendiri.

Sudah disebutkan sebelumnya bahwa kelebihan berat badan, gemuk, apalagi kegemukan itu sesungguhnya merupakan “bom waktu” kelak setelah anak dewasa nanti. Bom waktu bakal meledaknya sejumlah penyakit yang mengancam nyawanya, yakni bukan penyakit menular yang metanda hingga cucu buyut dari generasi paling muda sekarang ini. Bahwa anak yang sehat itu tidak gemuk, tapi tidak juga kurus. Kesadaran bahwa anak yang menjadi tumpuan harapan bangsa tidak boleh gemuk, perlu disadari semua keluarga, khususnya para ibu. Karena dari tangan ibulah akan lahir generasi penerus. Kalau ibu tidak memiliki pandangan, sikap, dan perilaku hidup sehat, maka akan begitu pula masa depan anak-anak yang dibesarkannya.